Jumat , Juli 19 2019
Home / Warta Desa / LEDHUG “PANGERAN DIPOKUSUMO KRIDO”
IMG-20171005-WA0066

LEDHUG “PANGERAN DIPOKUSUMO KRIDO”

Kesenian tradisional yang ada di Indonesia sangatlah luas dan kompleks, sehingga masyarakat perlu untuk mengetahuinya lebih mendalam. Musik tradisional sangatlah elok ketika kita sebagai generasi penerus selalu menjaga dan melestarikannya. Keindahan itu bisa terlihat jelas ketika para pemain bisa membawakan alunan musik tradisional dengan penuh semangat dalam kebersamaan. Tetabuhan demi tetabuhan alat musik menjadi berirama ketika adanya kekompakan para pemain. Persembahan kejeniusan lokal dari masyarakat memiliki filosofi yang penuh makna. Melihat peninggalan seni budaya yang luhur ini, sebagai generasi penerus kita wajib untuk selalu melestarikannya. Salah satunya musik tradisional LEDUG SURO Magetan.
Persembahan ledug merupakan suguhan musik tradisional khas Kabupaten Magetan yang mana dalam karya ini menampilkan harmonisasi tetabuhan musik tradisi yang berakar pada budaya Jawa dan perkusi Islami. Kolaborasi antara lesung dan bedug terlihat jelas dalam pertunjukan ini. Suatu bentuk maha karya yang biasanya dipentaskan dalam bulan suro untuk menyambut hari jadi Kabupaten Magetan pada tanggal 12 Oktober. Karya ini menjadi sebuah kemasan seni pertunjukkan tradisional yang menjadi ciri khas asli dari Kabupaten Magetan.
Kaitan dengan itu masyarakat Desa Purwodadi berusaha ingin melestarikan seni budaya Ledug Suro mewakili Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan dalam acara budaya perlombaan Ledug Suro Magetan. Kegiatan budaya ini sangatlah penting sekarang ini di era globalisasi untuk menggali, memahami, dan mengangkat kesenian tradisional khususnya Ledug Suro, sehingga bisa menambah wawasan untuk para generasi penerus. Besar harapan kami agar generasi penerus lebih memahami lagi dengan kesenian Ledug Suro dan bisa membawanya dalam suguhan elok untuk diperkenalkannya musik tradisional ini dalam tingkat nasional maupun internasional.
Melihat sejarah yang ada di Desa Purwodadi yang tidak terlepas dari perjuangan Pangeran Dipokusumo yang meneruskan perjuangan ayahnya Pangeran Diponegoro, maka penampilan ledhug persembahan dari Kecamatan Barat berusaha untuk memberikan suguhan dengan mengangkat nilai sejarah lokal yang ada. Konsep dari penampilan legug ini mengambil suasana dalam era Perang Jawa di Brang Wetan (wilayah Sukowati-Pacitan) ketika terjadi pertempuran dengan penjajah Belanda oleh Laskar Diponegoro pimpinan Pangeran Dipokusumo. Dalam penyajiannya juga tetap mempertahankan alunan musik klasik gaya Mataraman perpaduan tetabuhan dari lesung dan bedug.
Alat musik yang digunakan adalah lesung dan bedug murni dengan suguhan pakem yang berkolaborasi dengan syair-syair berupa doa, pitutur luhur, cerita sejarah dan lelucon. Sehingga dalam penampilannya sajian ledug kecamatan Barat selain sebagai hiburan rakyat juga berusaha mengangkat filosofi sejarah asli dari Desa Purwodadi yang selama ini masih belom banyak diketahui oleh masyarakat luas, dengan harapan kedepannya nanti Desa Purwodadi bisa menjadi salah satu aset wisata budaya di Kabupaten Magetan. Selain itu untuk melestarikan budaya yang ada agar generasi mendatang tidak kehilangan jati diri, menanamkan nilai patriotisme dan nasionalisme, utamanya untuk selalu ingat akan perjuangan para leluhur khususnya di Desa Purwodadi, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan.
Penyajian ledug ini terdiri dari 5 penabuh lesung, 3 penabuh bedug, 2 vokalis putri, 1 pembaca puisi sejarah kepahlawanan Pangeran Dipokusumo, dan 9 penari pendukung panggung yang lain, yaitu 1 pria sebagai tokoh Pangeran Dipokusumo dan 8 penari putri sebagai penari latar. Susunan penyajian panggungnya terbagi beberapa sesi yang terangkai dalam satu cerita, antara lain ;
– Pembuka berupa intro bedug dan lesung
– Sirep bedug masuk vokal maskumambang dan pangkur serta bedhayan yang berisi doa, penokohan terhadap Pangeran Dipokusumo dan tari bedhoyo Dipokusuman
– Pembacaan puisi Pangeran Dipokusumo
– Jula-juli Surobayan berupa syair pitutur
– Tetembangan berupa mars Dipokusuman
– Penutup.
Penataan kostum mengambil nuansa klasik gaya Jogja-Mataraman, karena menurut sejarah yang ada, leluhur Kadipaten Purwodadi berasal dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat – Mataram. Warna yang diambil dominan hitam, putih dan emas yang merupakan ciri khas Pangeran Diponegoro dan Pangeran Dipokusumo. Nuansa Jawa Mataraman terlihat kental dalam seni pertunjukan Ledug Suro perwakilan Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan dengan judul “DIPOKUSUMO KRIDO”.

IMG-20171005-WA0066 IMG-20171005-WA0067

About penyunting purwodadi

Check Also

IMG_2585

PENGHARGAAN SEBAGAI PEMUDA PELOPOR

         Pemberian penghargaan tertinggi Bupati Magetan untuk pemuda berprestasi dalam kepeloporan di masyarakat bidang sosial, …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *