Sabtu , Juli 20 2019
Home / Tak Berkategori / Antara Magetan dan Makassar, Napak Tilas Perjuangan Pangeran Diponegoro dan Putra-Putranya

Antara Magetan dan Makassar, Napak Tilas Perjuangan Pangeran Diponegoro dan Putra-Putranya

Sosok Panglima Besar tanah Jawa, yaitu Pangeran Diponegoro yang saat itu mampu merugikan pihak Belanda hingga 25jt gulden atau setara dengan 300jt US$ pada perang terbesar di tanah Jawa atau De Java Orlog pada tahun 1825-1830 memliki 22 keturunan dari 8 istrinya. Salah satunya yang berada di Purwodadi, Barat, Magetan merupakan keturunan dari putra keduanya yang bernama Pangeran Dipokusumo. Dalam namanya terdapat sebuah makna dari gelar “Diponegoro”, yaitu Dipa yang berarti pemimpin dan Negoro yang berarti negara. Sebutan Sultan pun diberikan oleh rakyat kepadanya di Goa Selarong dengan gelar Sultan Ngabdulkhamid Erutjokro Amirulmukminin Sayiddin Panatagama Khalifat Rosulullah ing Tanah Jawa. Namun, pada akhir perang Jawa terjadilah pengkhianatan dari pihak Belanda dalam diplomasi Diponegoro oleh Jenderal De Kock yang membawa sang pangeran dalam pengasingan terakhir di Fort Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan. Hingga keempat putranya yang membantu dalam Perang Jawa ikut diasingkan juga oleh Belanda di Ambon.

Dalam pengasingan itu Pangeran Diponegoro ditemani oleh istri keempatnya yang kemudian juga memiliki keturunan di Makassar. Itulah sebabnya Magetan dan Makassar mempunyai hubungan yang erat dalam perjuangan melawan penjajah di masa lalu. Yang pada tanggal 30 Maret – 1 April 2018 lalu 30 perwakilan Trah Pangeran Dipokusumo dari Desa Purwodadi-Magetan melakukan napak tilas ke makam Pangeran Diponegoro di Makassar.

Napak tilas ini juga mengawali keinginan keluarga besar trah Diponegoro untuk berkiprah lebih jauh bagi pembangunan bangsa. Hal ini disampaikan oleh para sesepuh keluarga yang ikut seperti Ki Roni Sodewo selaku ketua Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (PATRA PADI), R. Sugiarta Dipodanudirjo, R. Paimin, R. Soedjono Sastrodiwiryo, R. Ngt Warsi, R. Ngt Nur Chasanah dan R. Hendra Tri Utomo. Dalam rombongan juga termasuk R. Harryadin Mahardika, calon walikota Madiun yang merupakan keturunan ketujuh Pangeran Diponegoro dari jalur Pangeran Dipokusumo. Bersama dengan Yok Sujarwadi, S. STP selaku Camat Barat dan R. Ngt Suci Minarni, keturunan kelima Pangeran Diponegoro yang juga kepala desa Purwodadi.

Rasa bahagia, bangga, dan terharu nampak jelas dalam pertemuan keturunan Diponegoro ini yang setelah sekian lama hanya berkomunkasi melalui media sosial.Tujuan kunjungan ini pun untuk ziarah leluhur di makam Pangeran Diponegoro, sekaligus dalam rangka silaturahim dengan keluarga yang berada di Makassar dan mengunjungi tempat yang berhubungan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro. Salah satunya Fort Rotterdam yang merupakan benteng Belanda untuk mengasingkan Pangeran Diponegoro selama disana. Dalam pengasingan ini awalnya sang Pangeran diasingkan dalam bangunan yang tidak layak dan akhirnya dipindahkannya dalam sebuah gedung atas permintaan dari putra Raja Willam. Selama dalam pengasingan beliau menulis sebuah buku tentang biografi dan riwayat perjuangannya dalam melawan penjajah Belanda. Goresan tangan beliau kita kenal dengan Babad Diponegoro yang telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia. Seorang sejarawan dari Inggris yang bernama Prof. Peter Carey menggunakan babad ini sebagai sumber referensinya dalam penulisan buku tentang Diponegoro dan Perang Jawa.

Kegiatan ini diakhiri dengan pembentukan sebuah paguyuban keluarga yang bertujuan sebagai wadah persatuan dan kesatuan keluarga yang diberi nama Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro – jalur Pangeran Dipokusumo (PATRA PADI KUSUMA). Selain itu agar garis silsilah tidak hilang dan bisa menciptakan generasi-generasi penerus yang mampu melanjutkan perjuangan Pangeran Diponegoro kelak. Paguyuban keluarga ini diresmikan pada tanggal 1 April 2018 pukul 09.00 WITA di Makassar yang diketuai oleh R. Septian Bagus Winata, dan sebagai Dewan Penasehat dipilihlah Dr. R. Harryadin Mahardika, R. Paimin, R. Sugiarta Dipodanudirjo.

Rencana terdekat kegiatan Patra Padi Kusuma adalah mengkoordinir seluruh keturunan Pangeran Diponegoro dari jalur putra keduanya Raden Mas Dipokusumo. Mengingat dulu beliau merupakan seorang Panglima Perang di Brang Wetan saat Perang Jawa berlangsung dan menjadi seorang Adipati di Kadipaten Purwodadi. Selain itu pengurus paguyuban berusaha menyusun rencana agenda dalam menyelamatkan, melestarikan dan menjaga peninggalan cagar budaya berupa Kadipaten Purwodadi yang terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan. Antara lain adalah rencana menciptakan koperasi keluarga, menjalin komunikasi baik dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di Trowulan-Mojokerto untuk rencana rekontruksi peninggalan tersebut dan agenda tahunan Festival Budaya yang diberi nama Gumelaring Kadipaten Purwodadi.

About penyunting purwodadi

Check Also

Penguatan ketahanan masyarakat untuk mencegah paham intoleran, radikalimse dan Anti Pancasila.

Desa Purwodadi berupaya mencegah paham–paham radikalisme intoleran maupun anti Pancasila. Pasalnya, dalam kehidupan bermasyarakat, selain …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *