Sabtu , Juli 20 2019
Home / Tak Berkategori / Dipokusumo dan Mereka yang Tersembunyi

Dipokusumo dan Mereka yang Tersembunyi

Raja Willem I pada tahun 1831 menganugerahkan medali perang untuk para serdadu Belanda veteran Perang Jawa. Saking susah payahnya Belanda memenangkan peperangan, medali yang bernama Medaille van den Oorlog op Java 1825-1830 tersebut menjadi salah satu medali paling elit yang bisa didapatkan oleh seorang tentara kerajaan Belanda pada masa itu.Tidak banyak yang tahu bahwa salah satu front paling ganas yang dihadapi Belanda ada di wilayah yang sekarang ini menjadi Karesidenan Madiun.

Mengapa? Karena Pangeran Diponegoro mengutus putra keduanya, Dipokusumo untuk langsung memimpin perlawanan di front ini. Mewarisi karakter ayahnya yang berani dan bernyali, Dipokusumo berangkat ke sebuah daerah bernama Purwodadi (30 km barat laut Kota Madiun). Tugasnya jelas, menarik garis pertempuran sejauh mungkin sehingga pasukan belanda terpaksa memecah kekuatan.

Di Purwodadi dia bertemu dengan Raden Ahmad yang telah mendiami wilayah tersebut. Kemudian mereka membangun benteng pertahanan di Purwodadi, yang saat ini lokasinya berada di depan rumah kepala desa Purwodadi, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan. Status Purwodadi pada saat itu kemudian dinaikkan menjadi Kadipaten sebagai pusat pertahanan Perang Jawa wilayah timur. Membawahi wilayah perang yang kurang lebih terdiri dari Sragen sampai ke Pacitan (Brang Wetan).

Dipokusumo berhasil menjadikan benteng kadipaten tersebut sebagai pusat perlawanan. Ia melatih laskarnya disana, mengirim ekspedisi untuk mengganggu pasukan Belanda dan logistiknya. Beragam cerita pertempuran yang sengit tercatat dalam sejarah. Di Yogyakarta sendiri, setelah melakukan perlawanan selama lima tahun akhirnya Diponegoro tertangkap. Meski demikian, wilayah timur seperti Purwodadi masih terus memberikan perlawanan sampai beberapa tahun berikutnya.

Setelah beberapa waktu, Belanda berhasil memadamkan perlawanan, dan mengambil alih Kadipaten Purwodadi. Inilah era dimulai bersembunyinya para laskar dan keturunan Dipokusumo. Mereka menghindar dari penangkapan dengan mengganti nama, atau berpindah ke desa-desa di sekitar Purwodadi.

Adalah Raden Septian Diponegoro, anak kepala desa Purwodadi, yang masa kecilnya diselimuti rasa penasaran akan tembok benteng tua yang ada di depan rumahnya. Septian kemudian masuk jurusan sastra Inggris Universitas Brawijaya, dan mulai menelusuri kembali sejarah asal-muasal bangunan kadipaten tersebut.

Pencariannya bermuara pada hal yang tidak disangka-sangka. Hasil riset literatur dan wawancara ke para sesepuh menyimpulkan bahwa keluarga besarnya merupakan keturunan dari Dipokusumo anak kedua Pangeran Diponegoro. Sebagai anak muda yang kreatif, ia kemudian mengusulkan kepada keluarga besarnya untuk mengenalkan sejarah tersebut kepada generasi muda.

Kemudian lahirlah acara budaya Gumelaring Kadipaten Purwodadi melalui diskusi dengan beberapa pihak. Festival budaya ini berhasil mengenalkan sejarah yang telah lama hilang. Sejarah bahwa karesidenan Madiun menjadi salah satu pusat perlawanan laskar Diponegoro yang dipimpin anaknya, RM. Dipokusumo.

Septian kini tengah menyiapkan Gumelaring Kadipaten Purwodadi yang akan diadakan pada 31 Agustus 2018 – 2 September 2018. Sekarang dia dibantu oleh banyak pihak. Tidak hanya keluarganya, tapi juga pemda dan masyarakat sekitar. Inovasi yang ia lakukan menjadi magnet baru di wilayah tersebut. Dengan satu lemparan, ia mendapat dua capaian sekaligus: mengangkat kembali sejarah bangsa dan mengangkat citra pariwisata daerah. Dengan sejarah yang begitu kaya, semoga makin banyak pemuda yang mampu mengangkat sejarah keluarganya menjadi magnet baru pariwisata daerah.

About penyunting purwodadi

Check Also

Penguatan ketahanan masyarakat untuk mencegah paham intoleran, radikalimse dan Anti Pancasila.

Desa Purwodadi berupaya mencegah paham–paham radikalisme intoleran maupun anti Pancasila. Pasalnya, dalam kehidupan bermasyarakat, selain …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *