Jumat , Juli 19 2019
Home / Warta Desa / Gumelaring Kadipaten Purwodadi, Kenalkan Sejarah Perang Jawa

Gumelaring Kadipaten Purwodadi, Kenalkan Sejarah Perang Jawa

Mengembangkan sejarah dan budaya yang ada melalui sebuah acara untuk masyarakat umum merupakan suatu langkah yang bagus untuk memperkenalkan potensi-potensi desa Purwodadi. Dalam kegiatan ini bisa mewakili ajang untuk memamerkan segala potensi yang ada, seperti peninggalan sejarah, budaya, UMKM, kegaiatan2 para pemuda, dll.

Perlu diketahui bahwasanya mengenal dan menggali sejarah yang ada akan menjadikan kita lebih mencintai daerahnya. Terlebih jika para generasi penerus mampu untuk menjaga, mengembangkan dan melestarikannya melalui kreasi yang inovatif di era sekarang ini. Yang mana dalam kolaborasi tidak meninggalkan unsur klasiknya dan mengemasnya sesuai dengan kebutuhan sekarang ini.

Desa kami memiliki peninggalan bersejarah berupa Kadipaten Purwodadi yang patut untuk kita perhatikan dalam menjaga eksistensinya kelak. Sebuah peninggalan dari era Perang Jawa di Brang Wetan pimpinan Pangeran Dipokusumo yang merupakan putra kedua Pangeran Diponegoro.

Proses demi proses akan berusaha dijalani dalam mencapai sebuah tujuan yang baik. Oleh karena itu, tahap pengenalan sejarah dirasa sangatlah penting dengan suguhan budaya dalam event Gumelaring Kadipaten Purwodadi. Hal ini untuk menumbuhkan rasa dan jiwa nasionalisme kita dalam mencintai kearifan maupun kegeniusan lokal yang ada dari peninggalan para leluhur.

Acara budaya ini menyuguhkan berbagai macam kesenian tradisional seperti wayang kulit, ketoprak, karawaitan, seni tari tradisional, seni tarik suara, reog ponorogo, barongsai, ledhug sebagai salah satu musik khas Magetan, dsb. Tidak hanya itu dalam acara ini juga bisa kita jumpai beberapa pameran yang memberikan nilai edukasi kepada pengunjung yang datang. Pameran tersebut antara lain pameran pusaka, pameran seni lukis, pameran batik, kaligrafi, dsb. Acara umum pun juga terdapat pengajian dan jalan santai umum.

Selain itu dalam acara budaya ini juga ada tradisi sakral yaitu Kirab Lelana Tan Wicara (laku bisu), yang mana seluruh peserta yang mengikutinya tidak diperkenankan berbicara selama proses berlangsung. Lampu-lampu yang ada disekitaran jalan yang dilalui kirab juga harus dimatikan untuk menciptakan suasana yang hening. Terdapat juga Wilujengan Sewu Tumpeng Mrih Rahayu, merupakan bentuk rasa syukur keturunan Pangeran Diponegoro dan masyarakat dengan mengadakan salamatan. Yang bikin unik adalah selamatan tersebut diciptakan dengan nuansa klasik dengan tumpeng-tumpeng sejumlah 1000 yang dijajarkan sekitar 500 meter. Diharapkan berkah dari Allah bisa selalu dirasakan dalam tradisi ini.

Pada hari terakhir ditutup dengan kirab mengelilingi desa. Dalam kirab ini terdapat gununungan-gunungan kreasi dari masyarakat desa atas rasa syukur dari rejeki yang telah didapatnya selama ini. Acara budaya Gumelaring Kadipaten Purwodadi biasanya diadakan pada akhir bulan agustus tepatnya pada tanggal 31 Agustus. Ini dikarenakan pada tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi Desa Purwodadi.

About penyunting purwodadi

Check Also

IMG_2585

PENGHARGAAN SEBAGAI PEMUDA PELOPOR

         Pemberian penghargaan tertinggi Bupati Magetan untuk pemuda berprestasi dalam kepeloporan di masyarakat bidang sosial, …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *