Sabtu , Juli 20 2019
Home / Tak Berkategori / Sepi Pembeli, Pedagang ikut Sepi

Sepi Pembeli, Pedagang ikut Sepi

DOK RADAR MAGETAN

PPU: Sepi pembeli, PPU tak diminati para penjual

MAGETAN – Pasar Produk Unggulan (PPU) yang terletak di timur Terminal Maospati ternyata tak memasarkan produk unggulan dari Magetan. Pasar yang awalnya diperuntukkan bagi pedagang yang menjual produk unggulan Magetan itu ternyata justru melenceng dari apa yang menjadi tujuannya. ”Kan sekarang ada yang buka counter, les privat dan juga warung kopi, jualan es degan,” kata Darmaji, Kasi Sarpras Pasar.

Pun, Darmaji sendiri menagatakn dari 15 warung yang aktif di sana pun terkadang bisa berkurang. Dia menyebutkan 72 kios yang ada di PPU itu seluruhnya ada hak pakainya. Namun, dari instruksi pihaknya pada para pedagang, seharusnya memang buka semua, tapi hanya 20 persennya saja yang buka. ”Retribusinya tetap kami kelola dan tetap kami tarik,” katanya.

Dia menyebutkan bahwa pihaknya masih kesulitan untuk mengarahkan pedagang. Masalah hutang pemkab yang hingga kini belum kelar membuat pihaknya pun, juga sedikit kesulitan untuk mengambil kebijakan. ”Masih carut marut, dan memang dari pimpinan pun belum memberikan instruksi yang bisa kami tindakk lanjuti,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, memang kemungkinan ada beberapa faktor yang menyebabkan para pedagang cenderung enggan untuk membuka usaha di PPU. Meski terlihat sangat strategis, namun ternyata itu pun juga belum membuat dagangan mereka laku. ”karena, memang tempatnya seperti itu (kotor, kumuh, Red),” ujarnya.

Pun memang ditilik dari pendapat dari para penjual kerajinan kulit, letak PPU yang terlalu jauh dari Kota Magetan sendiri membuat mereka sudah kehilangan motivasi. Selain itu, kebanyakan para pedagang sudah memiliki kios sendiri di Jalan Sawo. ”Takut gak laku,” ungkap pedagang yang mengaku bernama Suharsono.

Meski strategis, pedagang tetap pilih – pilih. Selain letak yang jauh, pertimbangan mengenai kebersihan, fasilitas dan juga lahan parkir yang tidak tertata membuat mereka memberi nilai minus yang banyak untuk PPU Maospati jika memang harus berjualan di sana. ”Pembeli ada gak ada yangmau ke sana, penjual ya mana mau,” katanya.

Pun, dari pedagang yang sudah membuka kios di sana pun sudah merasakan bagaimana sepinya pengunjung. Pedagang yang mengaku bernama Sutini mengatakan ada yang membuka warung kopi yang sepi mampring. Hanya satu dua pelanggan saja yang datang. ”Apalagi pedagang baju dan sandal seperti kami. Pembeli yang datang nyaris gak ada,” katanya

Dia mengungkapkan banyak sekali kios yang tutup karena memang tidak dipakai. Dulunya da 20 kios yang aktif  kini tinggal 15 saja yang aktif. Dia mengatakan bahwa meski letaknya strategis, tapi melihat kondisi pasar yang seperti itu, tentu membuat pembeli enggan mampir. Selain banyak ditumbuhi rumput liar, jalanannya pun rusak dan tergenangi air ketika diguyur hujan deras. ”Palfonnya udah ada yang jebol. Kotor memang,” katanya.

Dia mengatakan memang dia juga menantikan upaya pemerintah untuk memperbaiki atau bertindak. Dia mengatakan jika masih begitu – begitu saja, lama – lama pedagang hengkang semua. Pun,sebenarnya PPU sangat ramai ketika malam karena banyaknya PKL yang berjualan. ”Tapi, kan yang jualannya siang seperti kami kan juga butuh pengunjung,” tanadasnya. (mg4)

About Desa Purwodadi

Check Also

Penguatan ketahanan masyarakat untuk mencegah paham intoleran, radikalimse dan Anti Pancasila.

Desa Purwodadi berupaya mencegah paham–paham radikalisme intoleran maupun anti Pancasila. Pasalnya, dalam kehidupan bermasyarakat, selain …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *