WEB LAMA

Desa Purwodadi

Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan

[REALISASI PROGRAM BUNDA KASIH DESA PURWODADI]    [SURAT EDARAN MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA]    [PENYALURAN BANTUAN LANGSUNG TUNAI (BLT) KEMENSOS DI DESA PURWODADI]    [ACARA PENUTUPAN KEGIATAN PENINGKATAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KERJA]    [LIPUTAN MEDIA TERKAIT PEMUDIK YANG DIISOLASI DI RUANG ISOLASI/KARANTINA DESA PURWODADI]    [KOPERASI WANITA (KOPWAN) “DADI LESTARI” DESA PURWODADI, BERDEDIKASI UNTUK MEMBERDAYAKAN PEREMPUAN]    [SAATNYA BERANI CERDIK UNTUK MENCEGAH PTM]    [RAPAT KOORDINASI PEMBENTUKAN RELAWAN DESA TANGGAP COVID-19 DESA PURWODADI]    [PANDUAN DISINFEKSI]    [MONITORING DAN EVALUASI BUMDES “SUCI MANDIRI” DESA PURWODADI]    [TINGKATKAN SINERGITAS, FORKOPIMCA GELAR GOWES BARENG BERSAMA KEPALA DESA DI KECAMATAN BARAT]    [ALUR BAGI PERANTAU YANG NEKAD MUDIK DI KABUPATEN MAGETAN]    [SURAT EDARAN BUPATI MAGETAN TENTANG PENYIAPAN RUANG ISOLASI UNTUK PERCEPATAN PENANGANAN DAN PENCEGAHAN PENYEBARAN CORONA VIRUS DISEASE 19 (COVID-19) DI DESA]    [PENYALURAN BST KEMENSOS BULAN MEI KECAMATAN BARAT]    [KEPALA DESA MENGAJAK KERJA BAKTI APARATUR PEMERINTAH DESA DI SEPUTAR KANTOR DESA PURWODADI]    [PENYALURAN BANTUAN LANGSUNG TUNAI (BLT) DANA DESA DI DESA PURWODADI]    [SUKSESKAN GERMAS, GERAKAN MASYARAKAT HIDUP SEHAT]    [MUSRENBANG DESA PURWODADI DALAM RANGKA PENYUSUNAN RKPD KABUPATEN MAGETAN TAHUN 2021 ]    [#MENCATATINDONESIA, YUK BERPATISIPASI DALAM SENSUS PENDUDUK ONLINE 2020]    [KEGIATAN JUMAT BERKAH POLSEK BARAT DI DESA PURWODADI]    [BUNUH KUMAN DAN VIRUS DENGAN MEMBIASAKAN MENCUCI TANGAN PAKAI SABUN]    [PROGRAM PEMBAGIAN MASKER GRATIS UNTUK MASYARAKAT DESA PURWODADI]    [DAPUR UMUM DESA PURWODADI UNTUK MASYARAKAT YANG TERKENA DAMPAK COVID-19]    [FORKOMPICA KECAMATAN BARAT, PUSKESMAS REJOMULYO BESERTA KEPALA DESA DAN LURAH DI KECAMATAN BARAT BERKOMITMEN BERSAMA MENCEGAH PENYEBARAN COVID-19]    [PERTEMUAN LOKAKARYA MINI TRIBULAN LINTAS SEKTOR DI PUSKESMAS REJOMULYO TAHUN 2020]    [MELINDUNGI DIRI DARI COVID-19]    [PARTISIPASI DESA PURWODADI DALAM MUSRENBANG KECAMATAN BARAT TAHUN 2020]    [HAL YANG BISA DILAKUKAN DALAM FASE SOCIAL DISTANCING]    [KAWAL DESA MELALUI PENGAWASAN OLEH TIM INSPEKTORAT JAWA TIMUR]    [KAPOLRES MAGETAN KUNJUNGI POSKO SIAGA COVID-19 DI DESA PURWODADI]    [PKH, MENEKAN JUMLAH KELUARGA MISKIN DI INDONESIA]    [LIBURAN TAHUNAN BARENG MASYARAKAT DESA PURWODADI DI YOGYAKARTA]    [RAPAT MUSYAWARAH ANTAR DESA (MAD) TRANSFORMASI BADAN KREDIT DESA (BKD) KABUPATEN MAGETAN]    [BPJS KETENAGAKERJAAN DAN MANFAATNYA]    [BANNER MEDIA PENCEGAHAN PENYEBARAN VIRUS COVID-19 DI DESA PURWODADI]    [PERTEMUAN RUTIN PENGURUS PKK DESA PURWODADI]    [KREATIVITAS MASYARAKAT RT 014 RW 002 DESA PURWODADI CEGAH COVID-19, PENYEMPROTAN CAIRAN DISINFEKTAN DENGAN MOBIL PICK UP]    [MENCETAK GENERASI SEHAT DAN CERDAS BERSAMA POSYANDU BALITA DESA PURWODADI]    [PENGECEKAN KESEHATAN SECARA RUTIN PEMUDIK DI RUANG ISOLASI/KARANTINA DESA PURWODADI]    [SOSIALISASI SPPT PBB TAHUN 2020 BAGI MASYARAKAT DESA PURWODADI ]    [PERUBAHAN ANGGARAN KEUANGAN DESA PURWODADI TAHUN ANGGARAN 2019]    [ARISAN PEMDES PURWODADI BERSAMA KETUA RT DAN RW, WADAH SILATURAHMI MENJALIN KOMUNIKASI]    [SURAT EDARAN BUPATI MAGETAN TENTANG PENUNDAAN RENCANA MUDIK DALAM SITUASI WABAH CORONA VIRUS DISEASE (COVID-19) BAGI WARGA MAGETAN YANG BERADA DI LUAR PULAU]    [KEGIATAN MONITORING DAN EVALUASI KEGIATAN PKK DESA PURWODADI TAHUN 2019]    [PKK DESA PURWODADI BERINOVASI DALAM UPAYA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN]    [SAMBUTAN KAPOLSEK BARAT DALAM KEGIATAN PENYALURAN BLT DD DESA PURWODADI]    [PROTOKOL PENCEGAHAN PENULARAN COVID-19 DI MASJID ATAU MUSHALLA]    [PENYEMPROTAN SERENTAK (DISINFEKTASI) UPAYA PENCEGAHAN PENYEBARAN COVID-19 KABUPATEN MAGETAN]    [POSYANDU BALITA, MEDIA INFORMASI DAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN ANAK]    [SOSIALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA PURWODADI (APBDES) TAHUN ANGGARAN 2020]    [JALIN SILATURAHMI DENGAN KERJA BAKTI]    [RAPAT KOORDINASI SENSUS PENDUDUK 2020 ONLINE (SP2020) KECAMATAN BARAT]    [SURAT EDARAN KEPALA DESA PURWODADI TENTANG PENERTIBAN PENUTUPAN MAUPUN PEMASANGAN PORTAL JALAN AKSES MASUK DESA]    [JALAN SANTAI KADER POSBINDU DAN PEMERINTAHAN DESA PURWODADI, WUJUD KEPEDULIAN KESEHATAN JASMANI]    [MUSYAWARAH RUTIN PEMERINTAH DESA DAN KETUA RW/RT BULAN JANUARI 2020]    [PROGRAM "CATIN MENANAM POHON"]    [BIJAK MEMAHAMI DAN MENYAMPAIKAN INFORMASI DI MEDIA SOSIAL ]    [PEMUDA DAN KARANG TARUNA]    [MUSYAWARAH PEMBENTUKAN PENGURUS BARU KELOMPOK TANI “KARYA TANI” PERIODE 2020- 2025 DUKUH SUDIMORO DESA PURWODADI ]    [MUSYAWARAH DESA DALAM RANGKA PENYUSUNAN RPJMDESA TAHUN 2020-2025]    [THERMO GUN ALAT PENDETEKSI SUHU TUBUH]    [RUANG ISOLASI TERPADU DESA PURWODADI]    [RAPAT KOORDINASI PEMERINTAH DESA PURWODADI DENGAN LINMAS TERKAIT PENCEGAHAN PENYEBARAN COVID-19]    [PERAN SERTA LPM DALAM PEMBANGUNAN DI DESA]    [POKOK-POKOK SURAT EDARAN MENTERI DESA, PDT DAN TRASNMIGRASI NO. 8/2020 TANGGAL 24 MARET 2020 DESA TANGGAP COVID-19 DAN PENEGASAN PADAT KARYA TUNAI PERDESAAN]    [MENYIKAPI PERKEMBANGAN TERBARU COVID-19 DI KABUPATEN MAGETAN]    [ANGKRINGAN “BON JERO” BERKEMBANG MENATAP MASA DEPAN]    [MENYIKAPI KEBERADAAN HAND SANITIZER YANG LANGKA]    [SURAT EDARAN GUBERNUR JAWA TIMUR TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN DAMPAK COVID-19 DI DESA]    [PERTEMUAN DAN ARISAN RUTIN TIM PENGGERAK PKK DESA PURWODADI EVALUASI DAN PENATAAN KEMBALI KINERJA ORGANISASI]    [CEGAH VIRUS CORONA MASUK KE DESA, TANGGUNG JAWAB KITA BERSAMA]    [PROTOKOL PENCEGAHAN PENULARAN COVID-19 DI AREA PUBLIK (PUSAT PERBELANJAAN, TERMINAL/PELABUHAN/STASIUN/AREA DI SEKITAR BANDARA DAN PUSAT HIBURAN)]    [RAPAT TIM GUGUS TUGAS PENANGANAN COVID-19 KABUPATEN MAGETAN]    [PETUGAS KESEHATAN UPTD PUSKESMAS REJOMULYO MELAKUKAN PENYULUHAN VIRUS CORONA (COVID-19) PADA KEGIATAN POSBINDU PTM POSYANDU LANSIA DESA PURWODADI]    [CEGAH PENYEBARAN WABAH CORONA VIRUS DISEASE (COVID-19), WARGA MELAKUKAN PEMBATASAN AKSES JALAN MASUK DESA PURWODADI.]    [MEMAJUKAN DESA DENGAN PENYUSUNAN PROFIL DESA]    [POSKO SIAGA COVID-19 DESA PURWODADI.]    [STRATEGI MELAWAN COVID-19]    [ISOLASI TERPADU DI DESA DAN ATURANNYA]    [SURAT EDARAN KECAMATAN BARAT TENTANG KEPATUHAN DALAM PENCEGAHAN PENYEBARAN COVID-19]    [#MASKER UNTUK SEMUA]    [GERAKAN WAJIB MEMAKAI MASKER UNTUK MEMUTUS RANTAI PENYEBARAN COVID-19]    [IMUNISASI BALITA DESA PURWODADI DI MASA PANDEMI COVID-19]    [UPAYA PERSUASIF PEMERINTAHAN DESA KEPADA PEMUDIK YANG ENGGAN UNTUK DIKARANTINA]    [RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DESA (RPJM DESA), PEDOMAN PENYUSUNAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA]    [IMUNITAS TUBUH DAPAT MENCEGAH PENYEBARAN COVID-19]    [MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN WARGA LANJUT USIA, MELALUI KEGIATAN POSYANDU LANSIA]    [PROGRAM PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN UNTUK BALITA KURANG GIZI (STUNTING)]    [BANTUAN LANGSUNG TUNAI (BLT) DANA DESA]    [REVISI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA 2020 DI TENGAH PANDEMI COVID-19]    [PELATIHAN SISKEUDES ONLINE TAHUN 2020 DI AULA KECAMATAN BARAT]    [LIPUTAN INDOSIAR DI DESA PURWODADI]    [GOTONG ROYONG RT 009 RW 002 DESA PURWODADI MENYEDIAKAN EMBER CUCI TANGAN]    [KUNJUNGAN TIM VERIFIKASI DESA SEHAT KABUPATEN MAGETAN KE DESA PURWODADI]    [PELAKSANAAN POSYANDU BALITA DAN LANSIA DALAM MASA PANDEMI COVID-19]    [WAJIB LAPOR KE PIHAK DESA BAGI PENDATANG DESA PURWODADI]    [PROTOKOL PENCEGAHAN PENULARAN COVID-19 DI PASAR RAKYAT DAN PEDAGANG KAKI LIMA]    [SEKILAS TENTANG BPJS KESEHATAN]    [PROTOKOL PENCEGAHAN PENULARAN COVID-19 PADA PENYELENGGARAN KEGIATAN MELIBATKAN MASSA (PERTEMUAN NASIONAL/INTERNASIONAL, SEMINAR, KONSER, EVENT OLAHRAGA, PESTA)]    [HIMBAUAN DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KABUPATEN MAGETAN TERKAIT KEWASPADAAN TERHADAP MEREBAKNYA VIRUS CORONA]    [PROTOKOL RELAWAN DESA LAWAN COVID-19]    [SURAT EDARAN KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL DAN TRANSMIGRASI RI DIREKTORAT JENDERAL PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENDATAAN KELUARGA CALON PENERIMA DANA DESA]    [PELANTIKAN DAN PENGUKUHAN KETUA TP PKK DESA PURWODADI MASA BAKTI 2019 - 2025]    [WASPADA KANKER LEHER RAHIM DENGAN MENJAGA KESEHATAN REPRODUKSI]    [PROGRAM BANTUAN PANGAN NON TUNAI (BPNT)]    [BERHENTI MENGANGGAP REMEH PERSOALAN VIRUS COVID-19]    [SURAT EDARAN BUPATI MAGETAN TENTANG PEMBENTUKAN GUGUS TUGAS PERCEPATAN PENANGANAN CORONA VIRUS DISEASE 2019 (COVID-19) DID ESA DAN PENGGUNAAN DANA DESA UNTUK PENANGANAN CORONA VIRUS DISEASE 2019 (COVID-19)]    [TIPS TETAP FIT MESKI JAGA POSKO MALAM HARI]    [RAPAT PENETAPAN DAFTAR PEMILIH SEMENTARA]    [SOSIALISASI BAHAYA PENYEBARAN VIRUS COVID-19]    [INDEKS DESA MEMBANGUN (IDM) DESA PURWODADI]    [PERSIAPAN PENGAJIAN UMUM MUSHOLA HUSNUL KHOTIMAH DALAM MENYAMBUT RAMADHAN TAHUN 1441 H/2020 MASEHI]    [PENYEMPROTAN DISINFEKTAN DI TEMPAT-TEMPAK PUBLIK DESA PURWODADI]    [PENYULUHAN TERKAIT HIMBAUAN MAJELIS ULAMA INDONESIA KABUPATEN MAGETAN DALAM MENGHADAPI PENYEBARAN VIRUS COVID-19]    [SURAT EDARAN CAMAT BARAT TENTANG PERCEPATAN PENANGANAN CORONA VIRUS DISEASE (COVID - 19)]    [SWADAYA MANDIRI RT 011 RW 002 MENYEDIAKAN EMBER CUCI TANGAN MENCEGAH PENYEBARAN COVID 19]    [GERAKAN DISINFEKTASI SERENTAK KABUPATEN MAGETAN DI DESA PURWODADI]    [KEGIATAN POSYANDU BALITA DESA PURWODADI]    [SOSIALISASI PERATURAN BUPATI MAGETAN NOMOR 6 TAHUN 2020 DAN PERATURAN BUPATI MAGETAN NOMOR 89 TAHUN 2019 KEPADA BENDAHARA DESA DI WILAYAH KABUPATEN MAGETAN]    [MENGAMBIL MANFAAT GERAKAN BERJEMUR MATAHARI PAGI]    [PENYALURAN PROGRAM BPNT DI DESA PURWODADI]    [PROTOKOL PENCEGAHAN PENULARAN COVID-19 DI PESANTREN]    [MUSRENBANG RKPD DALAM RANGKA PENYUSUNAN RKPD KABUPATEN MAGETAN 2021]    [RAKER PERCEPATAN PENYALURAN DAN PENGELOLAAN DD TAHUN ANGGARAN 2020 DI JX INTERNATIONAL CONVENTION DAN EXHIBITION SURABAYA BERSAMA GUBERNUR JAWA TIMUR]    [KEGIATAN INFORMASI MASYARAKAT (KIM), LAYANAN PUBLIK YANG DIBENTUK DAN DIKELOLA DARI, OLEH, DAN UNTUK MASYARAKAT YANG BERORIENTASI PADA LAYANAN INFORMASI DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT]    [PURWODADI BERKOMITMEN ISOLASI TERPADU DI DESA]    ["ANGKRINGAN KEBON JERO" UNIT USAHA BARU BUMDES "SUCI MANDIRI"]    [MENINGKATKAN KUALITAS KESEHATAN LANSIA DENGAN PROGRAM PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT)]    [PROGRAM PADAT KARYA TUNAI (PKT) DESA]    [MUSYAWARAH DESA KHUSUS PENETAPAN PENERIMA MANFAAT BLT DD]    [DESA PURWODADI MEMPERSIPKAN RUANG KELAS TAMAN KANAK-KANAK (TK) MENJADI TEMPAT ISOLASI PEMUDIK]    [KONSOLIDASI TERKAIT HIMBAUAN PELAKSANAAN BANTUAN LANGSUNG TUNAI DARI DANA DESA]    [PROTOKOL PENCEGAHAN PENULARAN COVID-19 DI RESTORAN/RUMAH MAKAN]    [JATIM SELF CHECK UP COVID-19]    [RAPAT KOORDINASI TERKAIT UPAYA PENCEGAHAN COVID-19 DI WILAYAH KABUPATEN MAGETAN]    [HIMBAUAN PELAKSANAAN SHOLAT IDUL FITRI DI DESA PURWODADI]    [PROGRAM PENGHIJAUAN DESA PURWODADI]    [RELAWAN SIAGA COVID-19 TAK KENAL LIBUR DALAM MENJAGA POSKO DAN RUANG ISOLASI/KARANTINA]    [PENYALURAN BANTUAN LANGSUNG TUNAI (BLT) DANA DESA BULAN MEI DI DESA PURWODADI]    [SOSIALISASI KARANG TARUNA TERKAIT HIMBAUAN PENUNDAAN MUDIK]    [PROGRAM BUNDA KASIH DESA PURWODADI]    [KUNJUNGAN PENANGGUNG JAWAB SURVAILANS PUSKESMAS REJOMULYO DAN PENYULUH AGAMA DI POSKO SIAGA DESA PURWODADI]    [PRA RAT TAHUN 2020 GAPOKTAN "SRI DADI" DAN SOSIALISASI PUPUK BERSUBSIDI ]    [MENGENAL LEBIH DEKAT DENGAN LEMBAGA BPD]    [PROTOKOL PENCEGAHAN PENULARAN COVID-19 DI AREA SEKOLAH/MADRASAH]    [PERAN RT/RW DALAM PENANGANAN COVID19]    [BERATNYA 14 HARI DALAM MASA KARANTINA DI RUANG ISOLASI TERPADU DESA]    [TIM PENGGERAK PEMBERDAYAAN DAN KESEJAHTERAAN KELUARGA, BERKOMITMEN MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PEREMPUAN DI DESA]    [SURAT DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL PEMERINTAH KABUPATEN MAGETAN]    [KIM, KEGIATAN INFORMASI MASYARAKAT]    [PENUNDAAN PROYEK PEMBANGUNAN FISIK DESA YANG BERUSUMBER DARI DANA DESA]    [LAYANAN TANGGAP DARURAT COVID-19 KABUPATEN MAGETAN]    [TETAP TENANG MENGHADAPI PEMUDIK YANG TIDAK MAU DIISOLASI]    [KERJA BAKTI FORUM DESA SEHAT (FDS) DESA PURWODADI]    [PEMBENTUKAN TIM 11, TIM PENYUSUN RPJMDES TAHUN 2019-2025]    [DESA PURWODADI BERKOMITMEN IKUT AKTIF DALAM PENCEGAHAN PENYEBARAN VIRUS CORONA]    [PANDUAN APLIKASI ANTRIAN ONLINE DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KABUPATEN MAGETAN]    [PROTOKOL POSKO SIAGA COVID-19 DESA PURWODADI]    [PROTOKOL PENCEGAHAN PENULARAN COVID-19 DI TRANSPORTASI PUBLIK (BUS DALAM KOTA/ANTAR KOTA/ANTAR PROPINSI, TAKSI, KERETA LISTRIK, KERETA API, KAPAL PENYEBERANGAN DAN ANGKUTAN UMUM DALAM KOTA)]    [HARI ANAK BALITA NASIONAL]    [SOSIALISASI PAJAK DAERAH TAHUN 2020 BADAN PENDAPATAN, PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ANGGARAN DAERAH (BPPKAD) KABUPATEN MAGETAN]    [BIMTEK RPJM DESA DALAM RANGKA PENINGKATAN KAPASITAS APARATUR PEMERINTAHAN DESA]    [KEGIATAN POSYANDU LANSIA DAN POSBINDU DESA PURWODADI]    [SURAT EDARAN CAMAT BARAT TENTANG HIMBAUAN KEWASPADAAN TERHADAP MEREBAKNYA VIRUS CORONA]    [KEGIATAN DESA SEHAT TINGKAT KABUPATEN MAGETAN TAHUN 2019]    [BUKA PETA SEBARAN COVID-19 DI HTTP://RADARCOVID19.JATIMPROV.GO.ID/]    [TANGGAP VIRUS CORONA, HIMBAUAN UNTUK MEMBENTUK GUGUS TUGAS PERCEPATAN PENANGANAN COVID-19]    [DAMPAK PANDEMI COVID-19 BAGI UMKM DI DESA]    [RAPAT ANGGOTA TAHUNAN (RAT) TAHUN BUKU 2019 GAPOKTAN "SRIDADI" DESA PURWODADI]    [LANGKAH-LANGKAH DESINFEKSI PERMUKAAN]    [KUNJUNGAN DINAS KOMINFO KEPADA "KIM POERWODADIE" DESA PURWODADI ]   
19 September 2019

Sejarah Desa

Pada zaman dahulu desa Purwodadi sebenarnya adalah sebuah hutan, dan didirikanlah sebuah pemukiman penduduk hingga berdiri sebuah Kadipaten Purwodadi yang megah pada saat itu, dengan bangunan Kadipaten yang luasnya kurang lebih sekitar 4 hektar. Berdirinya Kadipaten ini menunjukan bahwa Purwodadi pada waktu itu memiliki peran penting terhadap Kabupaten Magetan pada masa Perang Diponegoro berlangsung. Desa Purwodadi merupakan sebuah desa yang terletak di perbatasan Kecamatan Barat dan Kecamatan Karangrejo, dan memiliki letak lapangan yang sangat strategis yang dahulunya ini adalah sebuah alun-alun kota dan dijadikan pasar pon pada saat Kadipaten Purwodadi masih aktif.

Semenjak kedatangan para priyayi dari Puro Mangkunegaran yang bernama Raden Ahmad, daerah hutan tersebut dirubahnya menjadi sebuah pemukiman penduduk pada hari senin kliwon bulan mulud (salah satu nama bulan Jawa). Beliau adalah seorang bangsawan dari Praja Mangkunegaran yang kalah perang dengan kompeni Belanda. Karena pada saat itu daerah Jawa Tengah telah menjadi daerah yang rawan serangan kompeni Belanda. Raden Ahmad mendapat saran dari Adipati Semarang untuk pergi ke daerah Gunung Lawu sebelah timur, akhirnya beliau dan para pengikutnya menerima masukan tersebut dan pergi ke arah Gunung Lawu ditemani dengan Raden Arya Damar putra dari Adipati Semarang. Setelah sampai disekitaran Gunung Lawu sebelah timur, Raden Arya Damar memberi saran kepada Raden Ahmad untuk berhenti dan mendirikan sebuah pemukiman di daerah tersebut (Sumarsini, 2015).

Seiring berjalannya waktu pemukiman semakin hari semakin ramai dan kedatangan rombongan bangsawan dari Yogyakarta dan meminta izin menidirikan sebuah benteng pertahanan untuk dijadikanlah Kadipaten pada waktu Perang Diponegoro berlangsung di daerah ini (sekitar tahun 1825). Perang Jawa (1825-30) adalah garis batas dalam sejarah Jawa dan Indonesia umumnya antara tatanan lama Jawa dan zaman modern. Itulah masa dimana untuk pertama kali sebuah pemerintahan kolonial Eropa menghadapi pemberontakan sosial yang berkobar di sebagian besar Pulau Jawa. Hampir seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta banyak daerah lain di sepanjang pantai utaranya, terkena dampak pergolakan itu. Dua juta orang, yang artinya sepertiga dari penduduk Jawa, terpapar oleh kerusakan perang; seperempat dari seluruh lahan pertanian yang ada, rusak; dan jumlah penduduk Jawa yang tewas mencapai 200.000 orang (Carey 1976:52 catatan 1).

Bangsawan tersebut adalah anak dari Pangeran Diponegoro yang mendapatkan tugas dari ayahnya untuk mengikuti perang dan memperkuat daerah bumi Mataram agar terbebas dari penjajah Belanda dengan mendirikan benteng pertahanan dan Kadipaten. Anak kedua Pangeran Diponegoro yang datang menemui Raden Ahmad bernama R.M Dipokusumo/R.M Dipoatmodjo/Pangeran Abdul Aziz, beliau datang atas perintah dari ayahnya Pangeran Diponegoro yang dikenal oleh masyarakat sekitar dengan sebutan Sultan Erutjokro dan ditemani oleh para pengikutnya. Sebagai seorang pendiri dari Kadipaten Purwodadi atas perintah dari Pangeran Diponegoro, beliau diangkat sebagai Adipati resmi dan mempersiapkan prajurit-prajurit perang untuk melawan penjajah Belanda.

R.M Dipokusumo menjabat Adipati tidak terlalu lama, ini dikarenakan tugas beliau untuk melanjutkan amanah dari ayahnya dalam melawan penjajah Belanda di daerah lain, kemudian beliau menunjuk R.Ng Mangunnegoro sebagai Adipati sekaligus panglima perang di daerah ini, namun takdir berkata lain dimana R.Ng Mangunnegoro akhirnya gugur dalam medan pertempuran di daerah Bagi. Akhirnya posisi panglima perang digantikan oleh anaknya yang bernama R. Ng Mangunprawiro sekaligus sebagai Adipati di Kadipaten Purwodadi setelah “Perjanjian Sepreh”. Pada masa kepemimpinannya penjajah Belanda berhasil menguasai Magetan dan membaginya sistem pemerintahan di Magetan menjadi 7 daerah kekuasaan oleh Belanda, yang diputuskan dalam pertemuan semua Bupati se-wilayah Mancanegara Wetan pada 3-4 Juli 1830 di Desa Sepreh, Kabupaten Ngawi yang  mengharuskan Kadipaten Purwodadi untuk tunduk kepada pemerintah Belanda bersamaan dengan 7 Kadipaten lainnya di Magetan.

Pangeran Dipokusumo adalah anak kedua dari B.P.H Diponegoro/Pangeran Diponegoro/B.R.M Mustahar/R.M Ontowirjo/Sultan Ngabdulhamid Erutjokro Sayidin Panatagama Khalifat Rasulullah ing Tanah Jawa dari isteri pertamanya R. Ay Retno Madubrongto yang merupakan puteri kedua dari Kiai Gede Dadapan, ulama terkemuka dari Desa Dadapan, dekat Tempel-Sleman, daerah Yogyakarta (Carey 2014:26). Kadipaten tersebut diberi nama Kadipaten Purwodadi dikarenakan nama Purwodadi berasal dari kata “Purwo” yang berarti “wiwitan” dan “dadi” yang berarti “dumadi”, dengan maksut awal berdirinya sebuah Kadipaten.

 

Perjanjian Sepreh pada tahun 1830

Politik devide et impera Hindia Belanda, menghasilkan sebuah Perjanjian “Perjanjian Sepreh” pada tanggal 3-4 Juli 1830 atau tanggal 12-13 bulan suro 1758 tahun Je. Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang dipimpin oleh Raad Van Indie Mr.Pieter Markus, Ridder Van de Orde Van de Nederlandsche leeuw, Commisaris ter Regelling de Vorstenlanden dalam rangka mengatur daerah-daerah Mancanegara Timur Kasunanan Surakarta atau Kasultanan Yogyakarta. Pertemuan itu diikuti oleh semua bupati se-wilayah Mancanegara Wetan, pertemuan dilaksanakan di Desa Sepreh, Kabupaten Ngawi. Pada Pertemuan itu Hindia Belanda mengharuskan semua bupati Mancanegara Wetan untuk menolak kekuasaan Sultan Yogyakarta dan Susuhunan Surakarta dan harus tunduk kepada pemerintah Belanda di Batavia.

Dan akhirnya, pertemuan tersebut  menghasilkan sebuah “Perjanjian Sepreh Tahun 1830” yang ditandatangani dengan teraan-teraan cap dan bermaterai oleh 23 Bupati dari residensi Kediri dan residensi Madiun, dengan disaksikan oleh Raad Van Indie, Komisaris yang mengurus daerah-daerah Keraton serta tuan-tuan Van Lawick Van Pabst dan J.B. de Solis, residen Rembang. Berdasarkan persetujuan tersebut mulai saat itu Nederlandsch Gouverment melaksanakan pengawasan tertinggi dan menguasai daerah-daerah mancanegara.

Sejak tahun 1830 Kabupaten Magetan menjadi daerah jajahan Belanda. Pada masa itu yang menjabat Bupati Magetan adalah R.T. Sasrawinata (wafat tahun 1837). Kabupaten Magetan dipecah menjadi 7 daerah Kabupaten , yaitu :

  1. Kabupaten Magetan I (kota) dengan Bupati R.T. Sasrawinata
  2. Kabupaten Magetan II (Plaosan) dengan Bupati R.T. Purwawinata
  3. Kabupaten Magetan III (Panekan) dengan Bupati R.T. Sastradipura
  4. Kabupaten Magetan IV (Goranggareng Genengan) dengan Bupati R.T. Sasraprawiro yang berasal dari Madura.
  5. Kabupaten Magetan V (Goranggareng Ngadirejo) dengan Bupati R.T. Sastradirya
  6. Kabupaten Maospati (setelah ditinggalkan oleh Bupati wedana R. Ronggo Prawiradirja III), Bupatinya R.T. Yudaprawiro.
  7. Kabupaten Purwodadi, Bupatinya R. Ngabehi Mangunprawiro (sejak tahun 1825 disebut R. Ngabehi Mangunnagara). (www.magetankab.go.id/note/161)

Pada tanggal 31 Agustus 1830, atau hampir dua bulan setelah Perjanjian Sepreh, pemerintahan Hindia Belanda mulai mengadakan penataan-penataan / pengaturan-pengaturan atas kabupaten-kabupaten yang telah berada dibawah pengwaasan dan kekuasaanya. Tentang penataan ini dapat dilihat dalam surat pemerintahan Hindia Belanda Y1.La.A.No.1, Semarang, 31 Agustus 1830, yang berisikan tentang hasil konperensi dari Gubernur Jendral dengan komisaris-komisaris yang mengurus / mengatur daerah-daerah keraton.

Dari hasil konferensi tersebut, kemudian keluar satu keputusan tentang rencana dari Pemerintah Hindia Belanda, yang antara lain menerangkan bahwa:

Pertama : Menentukan bahwa daerah mancanegara bagian timur akan terdiri dari dua residensi,  yaitu Residensi Kediri dan Residensi Madiun

Kedua             : Bahwa Residensi Madiun akan terdiri dari kabupaten-kabupaten: Magetan, Poerwodadie,  Toenggoel, Gorang-gareng, Djogorogo, Tjaruban dan kabupaten kecil di   wilayah  sekitar Madiun lainnya baik batas dari kabupaten-kabupaten maupun distrik  juga akan diatur kemudian.

Ketiga              : Bahwa Residensi Kediri akan terdiri dari kabupaten-kabupaten : Kedirie, Kertosono,  Ngandjoek, Berbek, Ngrowo(Tulungagung) dan Kalangbret. Selanjutnya dari distrik-distrik Blitar, Trenggalek, Kampak dan yang lebih ke Timur sampai dengan batas-batas dari Malang: baik batas dari kabupaten-kabupaten maupun distrik-distrik juga akan diatur kemudian.

Panglima perang Pangeran Diponegoro di daerah Magetan-Madiun-Ngawi

Pada waktu permulaan perang Diponegoro di daerah Madiun, para Bupati di wilayah Madiun yang memimpin perang sebagai Panglima daerah adalah sebagai berikut :

– Raden Mas Tumenggung Prawirodirjo III ( saudara sepupu Pangeran Diponegoro )

– Raden Mas Tumenggung Prawirosentiko, Bupati kepala II di Tunggul/ Wonokerto

– Raden Mas Tumenggung Surodirjo, Bupati Keniten

– Raden Mas Tumenggung Yudoprawiro, Bupati Maospati

– Raden Mas Tumenggung Yudokusumo, Bupati Muneng

– Raden Mas Tumenggung Surodiwiryo, Bupati Bagij

– Raden Ngabehi Mangunprawiro, Bupati Purwodadi

Pemimpin peperangan yang berasal dari Madiun ada dua orang yaitu : Mas Kartodirjo dan Raden Ngabehi Mangunprawiro, putra Raden Tumenggung Mangunnegoro yang telah gugur dalam medan perang, selaku panglima perang Pangeran Diponegoro. Awal perang terjadi di Kota Ngawi, Kawuh, Gerih dan Kudur Bubuk semuanya di perbatasan Kabupaten Madiun (https://satriomediun.wordpress.com/2010/07/23/sejarah-perjuangan-rakyat-madiun/).

Adipati yang pernah memimpin di Kadipaten Purwodadi

Pada tahun 1870 Kadipaten Purwodadi dihapuskan. Berturut-turut yang menjabat Adipati di Purwodadi setelah ”Perjanjian Sepreh” adalah :

  • Mangunprawiro alias R. Ng. Mangunnagara
  • Ranadirja
  • Sumodilaga
  • Surakusumo
  • T. Sasranegara (1856-1870). (www.magetankab.go.id/note/161)

Sebelum perjanjian sepereh ada dua pemimpin yang menjabat yaitu : Pangeran Dipokusumo/R.M Dipoatmodjo dan Kandjeng Pangeran Mangunnegoro (yang meninggal dalam pertempuran Perang Diponegoro di daerah Desa Bagi). Kadipaten Purwodadi pada saat itu Adipati yang menjabat adalah Kandjeng Pangeran Mangunnegoro yang sangat benci dan menentang kompeni Belanda semenjak Gubernur Jenderal Daendels, yang akhirnya juga jatuh ke tangan Pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1830. (Magetan 1976, halaman 30)

Beberapa Adipati yang menjabat di Kadipaten Purwodadi merupakan pengikut setia dari Pangeran Diponegoro, seperti R. Ng Mangunnegoro dan R.Ng Mangunprawiro yang ditunjuk sebagai panglima perang di daerah Magetan-Madiun-Ngawi selama perang berlangsung. Nama beliau juga sudah tercatat dalam berbagai buku yang menerangkan kisah perang Pangeran Diponegoro. Setelah Kadipaten Purwodadi berhasil dikuasai oleh Belanda, dimana seperti diterangkan dalam isi perjanjian sepreh bahwa Kadipaten Purwodadi harus tunduk kepada pemerintahan Belanda. Semenjak saat itu Kadipaten Purwodadi yang sangat anti dan melawan Belanda, akhirnya jatuh juga ke tangan Belanda pada tahun 1830. Dari situ Belanda mempunyai wewenang penuh untuk mengatur semua sistem pemerintahan yang ada. Hingga pada tahun 1870 Belanda mengeluarkan sebuah keputusan yang menerangkan bahwa Kadipaten Purwodadi dileburkan menjadi satu dengan Kabupaten Magetan.

 

Dibaginya menjadi dua desa dan rentetan kepala desa.

Kemudian setelah Kadipaten Purwodadi dihapuskan pada tahun 1870 pada era R.M.T Sasranegara dan akhirnya Kadipaten Purwodadi dileburkan menjadi satu dengan Kabupaten Magetan. Hingga akhirnya Purwodadi diubahnya menjadi daerah kademangan yang dipimpin oleh seorang “Demang” yang bernama R. Madijosentono. Oleh demang R. Madijosentono, Purwodadi dibaginya menjadi 2  desa yang bernama :

  1. Temulus, yang dipimpin oleh Sastro Gatok
  2. Purwodadi, yang dipimpin oleh Marto Ikromo

Setelah beberapa bulan menjabat kedua kepala desa tersebut meninggal dunia dan digantikan oleh Riwuk untuk desa Purwodadi dan Martowidjojo-Ingsun untuk desa Temulus. Tidak lama kemudian Riwuk mengundurkan diri dan digantikan oleh R.M Kromoredjo ( Mbah Gong ) yang ditunjuk langsung oleh R.M.A Kertohadinegoro ( Gusti Ridder ) seorang Bupati Magetan. Pada saat penunjukan Mbah Gong sebagai kepala desa, Gusti Ridder turun langsung untuk mencari beliau yang saat itu berada di Pasar hewan.

R.M Kromoredjo yang mempunyai nama kecil (asma timur) R.M Kasio merupakan cucu dari R.M Dipokusumo dari puteranya yang bernama R.M Dipokromo. Beliau menjabat sebagai Kepala Desa Purwodadi dari tahun 1902 sampai 1920. Pada masa kepemimpinannya datanglah seseorang yang mengaku seorang bangsawan dari Yogyakarta yang bernama R.M Papak (Gusti Papak) dan ingin mendiami bangunan bekas Kadipaten Purwodadi. Beliau mengaku sebagai cucu dari Nyi Ageng Serang dan sama-sama keluarga Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang ikut membantu selama Perang Diponegoro berlangsung di daerah perbatasan Magetan-Madiun-Ngawi.

Saat itu Martowidjojo-Ingsun hanya menjabat sebagai Kepala Desa Temulus dengan waktu yang singkat, ini dikarenakan waktu itu beliau telah memberikan ijin kepada orang yang mengaku R.M Papak untuk tinggal didalam Kadipaten Purwodadi, dan diketahuinya oleh Gusti Ridder yang menjabat sebagai Bupati Magetan. Kejadian itu membuat Gusti Ridder marah besar dan memberhentikan jabatan Martowidjojo-Ingsun sebagai Kepala Desa Temulus, dan digantikan oleh Pontjodirjo yang merupakan anak menantu dari Martowidjojo-Ingsun.

Niat dari orang yang mengaku sebagai R.M Papak digagalkan oleh R.M Kromoredjo/Mbah Gong atas perintah dari Gusti Ridder, setelah kedatangan orang tersebut Mbah Gong langsung datang ke Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat menemui Sri Sultan Hamengku Buwono VII untuk mengecek kebenaranya dan ternyata beliau bukan R.M Papak yang sebenarnya. Ini dikarenakan bahwa R.M Papak cucu Nyi Ageng Serang yang sebenarnya telah meninggal pada tahun 1836 dan ayahnya diasingkan di Ambon pada tahun 1840. Kemudian bangunan pendopo ageng beserta bangunan-bangunan lainya didalam tembok Kadipaten Purwodadi dibongkar dan dibawa penjajah Belanda untuk menambah sebuah bangunan di Kantor Residensi Madiun. Semenjak itu tanah Kadipaten Purwodadi diijinkan oleh pihak Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat untuk dimiliki R.M Kromoredjo/Mbah Gong beserta keturunannya secara turun-temurun.

Akhirnya Gusti Ridder mengeluarkan sebuah peraturan untuk menjadikan kedua desa tersebut (Purwodadi dan Temulus) menjadi satu yaitu dengan nama “Desa Purwodadi”. Setelah itu diadakanlah pemilihan Kepala Desa Purwodadi yang dipilih langsung oleh rakyat, untuk pertama kalinya dan dimenangkan oleh Dandel/Toredjo. Beliau merupakan anak menantu dari Mbah Gong dan merupakan Kepala Desa pertama setelah bersatunya Purwodadi dan Temulus (R. Hardjo Wijono Parmin)

 

Cerita dibalik “BONJERO”

Wilayah  Kadipaten Purwodadi dibentuk pada masa Orloog op Java / Perang Jawa pada tahun 1825-1830 yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Dengan maksud dan tujuan untuk benteng pertahanan Perang Diponegoro dan dijadikan Kadipaten Purwodadi yang berdiri megah yang akhirnya pada tahun 1830 jatuh ditangan Belanda.

Wilayah tersebut pada akhirnya dilebur menjadi wilayah Regent van Magettan / Kabupaten Magetan pada tahun 1870 dimana Adipati terakhirnya pada waktu itu adalah R.M.T Sasranegara. Peninggalan Kadipaten Purwodadi saat ini berupa benteng baluwarti, kompleks makam kuno, bekas petirtaan, serta wilayah-wilayah yang dahulunya berfungsi sebagai pendukung sebuah wilayah pemerintahan (Alun-Alun, Kauman/Pengulon, Pandean, Kepatihan, Kademangan, Katemenggungan dll)

Pada saat Mbah Gong berhasil menggagalkan niat dari R.M Papak untuk tinggal di Ndalem Kadipaten, waktu itu beliau melapor kepada Wedono Maospati agar disampaikan kepada Gusti Ridder. Setelah Gusti Ridder mengetahui dan mengecek langsung di Ndalem Kadipaten, saat itu juga Mbah Gong diberi hadiah berupa 8 keris pusaka, 2 meja rias, 1 kursi tempat duduk dan 10 tanduk rusa yang salah satunya dibawa bapak Harmoko (mantan Ketua MPR-RI pada masa pemerintahan B.J Habibie). ( R. Sugiarto / R. Dipo Danu Derdjo )

Ada satu mitos yang berkembang di masyarakat sekitar tentang Ndalem Kadipaten ini, yaitu tentang kepemilikan tanah didalam tembok bekas Kadipaten ini. Dimana mitos yang beredar di masyarakat adalah pemilik dari tanah bekas Kadipaten Purwodadi ini harus masih trah/keturunan dari Mbah Gong yang garis laki-laki. Hal ini dikarenakan Mbah Gong adalah cucu buyut laki-laki dari Pangeran Diponegoro yang diberi amanah untuk memegang alih tanah bekas Kadipaten Purwodadi. Mbah Gong dulu berpesan kepada anak-anaknya bahwa tanah ini tidak boleh jatuh ke darah keluarga lain karena ini sudah amanah dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII  pada saat beliau membayar tanah ini kepada Keraton. Dikawatirkan orang yang bukan trahnya nanti tidak kuat untuk memiliki tanah bekas Kadipaten ini. Saat itu Ngarsa Dalem juga besrpesan kepada Mbah Gong bahwa tanah ini jangan dulu didirikan bangunan pendopo didalamnya selama masih ada keributan terjadi, hal ini untuk menjaga keutuhan didalamnya dan selama itu tanah ini harus ditanami tanaman yang hasilnya bisa dimakan oleh masyrakat apapun itu hasilnya (R. Suro Lasimin). Dari situ bekas Kadipaten ini disebut dengan nama “Bonjero” atau bahasa halusnya “Kebon Dalem”, kebon berarti kebun dan jero berarti dalam.

Tidak hanya itu, pada saat zaman penjajahan Jepang, Jepang memiliki akal tidak baik dan ingin memanfaatkan batu bata bekas kadipaten ini untuk dibuat bangunan Bandara di Surabaya. Karena waktu itu yang memegang alih bekas Kadipaten ini adalah R.M Kromoredjo/Mbah Gong, penjajah Jepang meminta ijin kepada Mbah Gong. Dengan rasa berat hati, beliau memberi ijin penjajah Jepang untuk membawa batu bata pagar dari bekas Kadipaten Purwodadi ini karena saat itu Jepang memintanya dengan paksaan. Namun setelah dibawa oleh penjajah Jepang, dalam perjalanannya menurut cerita dari para pekerja yang ikut penjajah Jepang ada beberapa hal keanehan yang terjadi. Sesampainya batu bata di Surabaya, banyak dari pekerja dan penjajah Jepang yang meninggal misterius. Mereka banyak yang meninggal dengan keadaan perut buncit dan akhirnya meledak. Bahkan banyak dari warga sekitar, para pekerja Jepang dan penjajah Jepang yang mengalami kerasukan makhluk halus pada saat itu. ( R. Hardjo Wiyono parmin )

Banyak dari mereka yang bermimpi aneh yang menyuruh untuk mengembalikan batu bata itu ke tanah asalnya. Dalam mimpi mereka konon jika batu bata ini tidak dikembalikan ke asalnya di desa Purwodadi, maka tempat yang dibangun dengan menggunakan batu bata ini akan menjadi tempat yang angker dan memakan banyak korban sampai meninggal dunia. Pagar sebelah utara yang sudah dibongkar oleh Jepang akhirnya dikembalikan dan diserahkan kembali kepada R.M Kromoredjo/Mbah Gong kemudian ditata kembali oleh keluarga keturunannya yang dibantu masyrarakat Purwodadi atas perintah dari beliau. Masyarakat Purwodadi dengan penuh semangat dan kebersamaan menata kembali pagar bekas Kadipaten ini. Pada waktu itu penjajah Jepang maupun para pekerjanya merasa ketakutan akan hal ini dan mereka tidak mau mengambil resiko yang lebih parah karena saat itu sudah memakan banyak korban nyawa maupun korban dari masyarakat yang banyak mengalami kerasukan makhluk halus.

 

Bonjero dahulu merupakan pusat pemerinatahan yang sangat ramai, ini juga ditandai dengan beberapa tempat dan daerah sebagai bukti otentik yang menunjukan bahwa di Desa Purwodadi dahulu adalah pusat pemerintahan yang benar-benar berlangsung di daerah ini. Selain pagar dari Kadipaten Purwodadi yang masih berdiri kokoh di desa ini juga terdapat peninggalan-peninggalan bersejarah lainnya maupun nama daerah yang menjadi ciri khas daerah pusat pemerintahan, seperti terdapat Dukuh Beteng (Kelurahan Mangge), Desa Kauman, Desa Patihan dan Desa Temenggungan disekitar daerah ini.

Secara geografis letak Desa Purwodadi berdampingan dengan Desa Kauman dan Desa Patihan. Ini salah satu tanda bahwa dimana ada pusat pemerintahan disitu ada alun-alun, pasar, daerah Beteng, daerah Kauman, daerah Kepatihan, daerah Katemenggungan, tempat pande besi dll. Begitupun juga dengan Desa Purwodadi yang memiliki ciri-ciri seperti tersebut. Lapangan Desa Purwodadi yang dahulu adalah sebuah alun-alun dan berdampingan dengan pasar, ditambah sebelah barat alun-alun (sekarang lapangan sepak bola Desa Purwodadi) terdapat masjid yang sekarang dijadikan makam keluarga dari R. Abdoel Moestofa yang dahulu merupakan seorang penghulu saat Kadipaten Purwodadi masih aktif. Beliau juga pernah menjabat sebagai A.W atau Asistan Wedono Karangmojo. Masjid tersebut sekarang berada didalam tembok makam keluarga yang banyak terdapat makam orang-orang hebat negeri ini didalamnya.

Sebelah barat alun-alun bernama Desa Kauman yang dimaksutkan bahwa ada pendekatan secara agama di daerah ini pada waktu itu. Oleh sebab itu masjid agung yang sekarang menjadi pemakaman keluarga berada di Desa Kauman, Kecamatan Karangrejo. Dimana di desa ini merupakan industri gamelan jawa yang terkenal di Magetan maupun daerah-daerah lain sampai saat ini. Disamping Desa Kauman, juga terdapat Desa Patihan yang berdampingan dengan Desa Purwodadi. Desa ini dahulu merupakan untuk kediaman para patih dari Kadipaten Purwodadi.

Adapun ciri lain adalah terdapat daerah untuk tempat pande besi waktu itu yang diwariskan secara turun-temurun namun sekarang sudah tidak diteruskan lagi oleh keluarganya. Tempat tersebut berada disebelah barat alun-alun juga. Beberapa tempat pande besi ini untuk mengolah dan membuat alat-alat dari besi yang digunakan untuk kebutuhan masyrakat pada waktu itu seperti bercocok tanam dan lain sebagainya

Disekitaran Kadipaten Purwodadi juga terdapat beberapa rumah yang masih trah/keturunan untuk tetap menjaga bentuk dan struktur bangunan jawa yang kita kenal dengan sebutan rumah joglo dimana terdapat pendopo didalam rumahnya. Sebagai contoh rumah dari R.M Kromoredjo/Mbah Gong dan rumah anaknya R. Ngt Klumpuk yang masih terjaga bentuk khas adat Jawanya. Bahkan didalam rumah R. Ngt Klumpuk masih tersimpan gamelan Jawa yang Gong besarnya asli dari Keraton. Gong besar tersebut diberi nama Kyai Mbelem, gong besar ini sebelum dipakai untuk acara ada tradisi khusus yang dilakukan seperti di Keraton zaman dahulu yang tetap dijaga sampai sekarang untuk melestarikan tradisi dan budaya Keraton. Selain itu untuk memindahkan gong Kyai Mbelem tersebut tidak boleh dinaikan kendaraan melainkan harus digotong sejauh apapun itu.

 

Sekolah Rakyat / SDN Purwodadi dan siapa didalamnya?

          Sekolah Dasar yang diberi nama SDN Purwodadi dahulunya bernama Sekolah Rakyat. Sekolahan ini menerima siswa pertama kali pada tahun 1869. Bangunan yang sebelumnya terbuat dari anyaman bambu dengan tiang kayu yang berdiri kokoh membuat sekolahan ini menjadi sekolahan yang terkenal pada waktu itu. Seiring dengan perkembangan zaman, sekolahan ini direnovasi menjadi bangunan yang terbuat dari tembok bata, tetapi tetap mempertahankan bentuk aslinya.

 

Kurang lebih 100 meter dimuka gapura terdapat sebuah gedung sekolah. Hingga kini gedung tersebut masih utuh seperti sedia kala, sekarang menjadi SDN Purwodadi. Diantara murid dari sekolahan tersebut adalah Profesor Doktor Sarjito yang pernah menjabat sebagai Presiden Universitas Gadjah Mada yang pertama (sekarang Rektor). (Magetan 1976, hal 6)

 

Prof. Dr. dr. M. Sarjito, M.D, M.P.H kelahiran 13 Agustus 1889 di Desa Purwodadi, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan yang merupakan anak sulung dari lima bersaudara putera dari Sastro Wiloyo. Beliau memiliki peranan penting dalam sejarah perjuangan bangsa Republik Indonesia pada masa mempertahankan kemerdekaan NKRI, dan juga merupakan Rektor tertua pada saat menjabat dibandingkan dengan rektor-rektor Universitas Gadjah Mada yang lain, dr. Sarjito pada saat menjabat berusia 60 tahun. Pada tahun1954, beliau memiliki gagasan untuk mendirikan sebuah Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP) guna mencukupi kebutuhan pelayanan masyarakat di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta serta Jawa Tengah bagian selatan. Perjuangan tersebut baru berhasil pada tahun anggaran 1970/1971 menggunakan biaya dari Departemen Kesehatan RI dengan lokasi di Pingit, sayangnya setelah ditinjau oleh Departemen Kesehatan RI dianggap tidak memadai. Setelah pembicaraan yang lebih lanjut maka pembangungan RSUP dipindahkan ke daerah Sekip dengan nama RSUP Dr. Sarjito. Penggunaan nama tersebut adalah untuk mengenang perjuangan dan jasa-jasa Prof. Dr. dr. M. Sarjito, M.D, M.P.H. Pada tanggal 8 Februari 1982 RSUP Dr. Sarjito telah dibuka secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto. (http://sarjitohospital.co.id/index.php?action=generic_content.main&id_gc=3)

Perjalanan hidup dr. Sarjito yang mempunyai istri pertama seorang warga negara asing berkebangsaan Belanda dan istri keduanya yang merupakan keturunan dari Keraton Surakarta Hadiningrat tidak menurunkan keturunan. Sebelum beliau menjadi seorang yang sukses, beliau pernah meracik dan berjualan jamu di Surakarta. Beliau meninggal dan dimakamkan di Yogyakarta (R. Latianto).

Selain itu ada juga beberapa tokoh nasional yang berasal dari desa Purwodadi dan lulusan dari sekolahan tersebut. Beliau adalah R. Umarjadi Njotowijono yang merupakan Sekretaris Umum ASEAN wakil Indonesia yang ditugaskan dalam ASEAN pada 19 Februari 1978 – 30 Juni 1978. (http://www. asean.org/asean/asean-secretariat/former-ssecretaries-general-of-asean).

  1. Umarjadi Njotowijono adalah anak yang rajin dan pintar di sekolahnya semasa beliau menuntut ilmu di Sekolahan ini dan bisa membawa beliau sebagai tokoh nasional yang diberi kepercayaan untuk mewakili Indonesia didalam tugas Internasional yang juga mengharumkan nama bangsa Indonesia dimata dunia.

Tidak hanya beliau, saudara kandung beliau yang bernama R. Umarsahid Njotowijono juga menjadi seorang polisi yang menjabat sebagai Djawatan Kepala Polisi pada era Presiden Soekarno. R. Umarsahid Njotowiyono juga merupakan alumni salah satu siswa dari SDN Purwodadi. Beliau memiliki jabatan tinggi kepolisian pada waktu itu, R. Umarsahid Njotowijono dan R. Umarjadi Njotowijono merupakan anak dari bapak yang bernama R. Njotowijono (Mbah Mantri sebutan kepada beliau dari masyarakat Purwodadi). Setelah R. Umarjadi Njotowijono dan R. Umarsahid Njotowijono meninggal dunia, beliau dimakamkan di makam keluarga yang terletak di Desa Kauman, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan.

Ketua DPRD Kabupaten Magetan yang menjabat pada tahun (1999 – 2009) yang bernama H. Prayoga Prayitno juga merupakan lulusan dari SDN Purwodadi, beliau menjabat sebagai ketua DPRD Kabupaten Magetan selama dua periode yang mencalonkan diri dari Partai PDI-Perjuangan. Kemenangan beliau dalam pemilu tersebut membawa beliau bisa terpilih sebagai ketua DPRD Kabupaten Magetan pada saat itu.

SDN Purwodadi memiliki bangunan kokoh yang berdiri sejak dahulu, yang dibangun pada era terakhir Kadipaten Purwodadi. Berdasarkan cerita dari masyarakat sekitar dahulunya tanah yang dipakai untuk membangun SDN Purwodadi adalah sebuah tempat untuk menghukum para pemberontak yang telah melanggar aturan-aturan yang berlaku dalam Kadipaten selama Kadipaten Purwodadi masih aktif. Sekolah yang dulu bernama Sekolah Rakyat ini telah berhasil membuktikan bahwa anak didik lulusan dari sekolahan ini tidak hanya menjadi tokoh dan pimpinan di daerahnya, tetapi juga ada yang menjadi tokoh ditingkat nasional seperti Prof. Dr. dr. M. Sarjito, M.D, M.P.H, R. Umarjadi Njotowijono, dan R. Umarsahid Njotowijono. Semoga dari beberapa tokoh nasional tersebut bisa memotivasi masyarakat Desa Purwodadi terutama generasi muda untuk menjadi tokoh-tokoh nasional berikutnya dan bisa mengharumkan nama daerah.

 

SUTONO (KASI PELAYANAN)    SUNARKO (KASI KESEJAHTERAAN)    SUTRISNO (KAUR UMUM DAN TATA USAHA)    RUWIYANTO (KAUR PERENCANAAN/PLT. SEKRETARIS DESA)    MURYANI (KASI PEMERINTAHAN)    BUDIONO (KAMITUWO 01)    WAHYU FATHURROCHMAN (KAMITUWO 02)    HADI CHRISTIANTO (KAUR KEUANGAN)